SPRITUALITAS DALAM PENDIDIKAN ISLAM

SPRITUALITAS DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Oleh Sopian Sinaga, MPdI

A. Pendahuluan

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Mayoritas penduduknya adalah umat Islam. Namun bangsa besar yang umumnya muslim ini belum mampu menunjukkan kualitasnya baik dari sektor ekonomi, pendidikan, industri dan lain-lain. Justru kita hanya menjadi bangsa yang kaya dengar sumber daya alam dan manusianya namun menjadi jongos bagi orang lain. Sehingga nampaklah kemiskinan di mana-mana, kita hanya menjadi konsumen bagi produk bangsa lain, martabat bangsa ini di mata dunia hanya dipandang sebelah mata.

Kelemahan bangsa ini selain memang karena ada upaya pelemahan dari bangsa lain demi meraup keuntungan dari kita, juga adalah karena banyaknya persoalan internal dalam diri bangsa ini. Diantara penyebab terpuruknya kualitas bangsa ini adalah adanya dikotomi ilmu dan pemisahan antara agama dan ilmu pengetahuan atau sains. Seolah-olah agama tidak mengajarkan ilmu pengetahuan atau tidak bisa bersatu dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya seolah-olah jika ilmu pengetahuan bergandengan dengan agama, maka ia hanya akan mengakibatkan kemunduran sains itu sendiri. Padahal Islam realitanya sejalan dan sangat mendukung ilmu pengetahuan dan teknologi. Fakta sejarah juga sudah membuktikan bahwa Islam sudah membawa manusia dari masa gelap menuju jaman keemasan Islam yaitu sekitar abad 2-7 Hijriyah.

Masalah lain yang juga melanda dunia pendidikan kita adalah adanya krisis moral, akhlak dan karakter di masyarakat kita, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat secara umum. Krisis moral ini bukan hanya menimpa sebagian peserta didik, namun juga tenaga pendidik dan pengelola pendidikan atau kepala sekolah. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya praktik korupsi di sekolah, tindakan asusila yang dilakukan sebagian oknum guru terhadap murid, murid yang durhaka terhadap gurunya dan lain sebagainya.

Mengatasi masalah tersebut membutuhkan kerjasama dari semua pihak terkait, tidak hanya menyerahkan kepada pengelola dunia pendidikan seperti pemerintah namun masyarakat juga semestinya ikut memberikan kontribusi dalam rangka perbaikan atas masalah pendidikan kita. Dengan adanya kerjasama maka masalah-masalah yang ada semoga akan cepat teratasi.

Pendidikan Agama Islam merupakan upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Adapun yang menjadi dasar dari Pendidikan Agama Islam adalah Al-Qur’an dan Hadits. Tujuan Pendidikan Agama Islam yaitu membina manusia beragama yang berarti manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna, sehingga tercermin pada sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupannya.

Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesama manusia. Dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di sekolah, perlu dibarengi dengan jiwa dan nilai spiritual agama, agar hasil dari kegiatan pendidikan itu lebih optimal baik dari segi keilmuan maupun akhlak dan sikap.

Melihat persoalan di atas ditambah dengan tantangan zaman yang terus bertambah, maka tidak ada tawar menawar kecuali merekonstruksi kurikulum pendidikan kita berdasarkan integrasi antara ilmu umum dengan ilmu agama. Karena kita meyakini bahwa agama Islam sejatinya tidak akan membawa manusia kecuali kepada masa kejayaan. Dengan demikian, kurikulum yang dipandang baik untuk mencapai tujuan pendidikan Islam adalah yang bersifat integrated dan komprehenshif, mencakup ilmu agama dan umum. Sehingga kurikulum tersebut jauh dari nilai-nilai sekularisme yang memisahkan antara agama dan kehidupan dunia, antara agama dan ekonomi, social dan politik. Kesempurnaan manusia tidak tercapai kecuali dengan menyerasikan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Yang demikian itulah yang dapat menjadikan umat ini dapat melahirkan pemikir-pemikir hebat dan unggul di masanya seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Ghazali, Ibnu Khladun dan lain-lain.

Solusi lain adalah penekanan atas pelaksanaan norma dan nilai kegamaan dalam dunia pendidikan, sehingga pendidikan kita lebih islami dan jauh dari budaya sekulerisme. Dengan demikian keberkahan ilmu akan kita peroleh sebagaimana telah diperoleh oleh orang-orang baik terdahulu dari klangan ulama dan salafus salih.

B. Pembahasan

1. Prinsip dan Konsep Dasar Spritualisasi Pendidikan

a. Defenisi Spritualisasi Pendidikan

Spritualitas menurut KBBI adalah berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin).[1] Dalam bahasa Indonesia spiritual diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan kejiwaan (rohani atau batin). Sedangkan kata spiritual dalam bahasa Inggris mempunyai makna batin, rohani, dan keagamaan.[2] Adapun spritualisasi adalah bermakna proses atau menjadikan sesuatu bernilai spritual. Hal itu karena kata spritual mendapat imbuhan akhiran isasi yang termasuk ke dalam imbuhan akhiran serapan dari bahasa lain. Imbuhan isasi yang diserap dari bahasa Inggris tersebut mempunyai bermakna proses atau menjadikan sesuatu.[3]

Adapun spritualisasi pendidikan adalah proses atau usaha menjadikan kegiatan pendidikan, pengajaran lebih bernilai spritual keagamaan. Pendidikan dan pengajaran yang dilandasi semangat spiritual keagamaan akan memberikan hasil yang baik, karena akan senantiasa menjaga adab, akhlak dan nilai agama. Adapun pendidikan yang kosong dari niai dan semangat keagamaan, maka ia akan terasa hampa, kering dan jauh dari keberkahan ilmu yang hanya Allah yang bisa mengaruniakannya kepada hamba-Nya.

b. Kecerdasan Spritual

Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa, ia adalah kecerdasan yang dapat membantu manusia menyembuhkan dirinya secara utuh. Banyak sekali manusia yang saat ini menjalani hidup yang penuh luka dan berantakan, mereka merindukan keharmonisan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Kecerdasan spiritual (KS) adalah kecerdasan yang berada dibagian diri seseorang yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau pikir sadar.[4] Dengan KS, manusia tidak hanya mengakui nilai-nilai yang ada tetapi secara kreatif menemukan nilai-nilai baru. KS merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, sehingga seseorang dapat mengetahui apakah tindakan atau jalan hidupnya lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.

Kecerdasan spiritual membimbing seseorang untuk mendidik hati menjadi benar dengan menggunakan metode; pertama, jika seseorang mendefinisikan manusia sebagai kaum beragama, tentu KS mengambil metode vertical yaitu bagaimana KS dapat mendidik hati seseorang untuk menjalin hubungan dengan Tuhannya. Islam menegaskan dalam al-Qur’an untuk berdzikir, karena dzikir berkorelasi positif dengan ketenangan jiwa dan menjadikan hati seseorang dalam kedamaian dan penuh kesempurnaan secara spiritual. Kedua, implikasinya secara horizontal, KS, mendidik hati seseorang ke dalam budi pekerti yang baik dan moral yang beradab. Pendidikan moral dan budi pekerti yang baik, seharusnya menjadi bagian intrinsik dalam kurikulum pendidikan, sehingga sikap-sikap terpuji dapat ditanamkan dalam diri siswa sejak usia dini yang memberikan bekas dan pengaruh kuat dalam perilaku siswa di sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari.[5]

c. Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Moh. Natsir Mahmud mengemukakan beberapa proposisi (usulan) tentang kemungkinan islamisasi ilmu pengetahuan, sebagai berikut :

1) Dalam pandangan islam, alam semesta sebagai obyek ilmu pengetahuan tidak netral, melainkan mengandung nilai (value) dan “maksud” yang luhur. Bila alam dikelola dengan “maksud” yang inheren dalam dirinya akan membawa manfaat bagi manusia. “Maksud” alam tersebut adalah suci (baik) sesuai dengan misi yang diemban dari Tuhan.

2) Ilmu pengetahuan adalah produk alam pikiran manusia sebagai hasil pemahaman atas fenomena di sekitarnya. Sebagai produk pikiran, maka corak ilmu yang dihasilkan akan diwarnai pula oleh corak pikiran yang digunakan dalam mengkaji fenomena yang diteliti.

3) Dalam pandangan islam, proses pencarian ilmu tidak hanya berputar-putar disekitar rasio dan empiri, tetapi juga melibatkan al-qalb yakni intuisi batin yang suci. Rasio dan empiri mendeskripsikan fakta dan al-qalb memaknai fakta, sehingga analisis dan konklusi yang diberikan sarat makna-makna atau nilai.[6] 

2. Spritualisasi Tujuan Pendidikan

Spritualisasi tujuan pendidikan berarti proses menjadikan tujuan pendidikan lebih bernilai spritual. Jika kita melihat UU Sistem Pendidikan Nasional no.20 tahun 2003 pasal 3, maka kita dapati bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sejalan dengan itu, Syekh Khalid al-Hazimy berkata bahwa tujuan pendidikan Islam adalah pengembangan bidang keilmuan, pembinaan akidah yang benar, pembinaan ibadah, pembinaan akhlak mulia, dan profesi hidup serta pembinaan jasmani.[7] Sayyid Sabiq menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah upaya mempersiapkan anak dari segi jasmani, akal, dan rohani sehingga ia menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat untuk dirinya maupun umat.[8] Yusuf al-Qardawi menyatakan pendidikan Islam adalah sebagai pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaniyah, akhlak dan keterampilannya, dan menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.[9]

Adapun tujuan pendidikan Islam menurut al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Ibnu Rusn adalah sebagai berikut:[10]

1. Mendekatkan diri kepada Allah SWT., yang wujudnya adalah kemampuan dan dengan kesadaran diri melaksanakan ibadah wajib dan sunnah.

2. Menggali dan mengembangkan potensi atau fitrah manusia.

3. Mewujudkan profesionalisasi manusia untuk mengemban tugas keduniaan dengan sebaik-baiknya.

4. Membentuk manusia yang berakhlaq mulia, suci jiwanya dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela.

5. Mengembangkan sifat-sifat manusia yang utama sehingga menjadi manusia yang manusiawi

Dari beberapa pendapat pakar, ulama serta UU Sisdiknas di atas, jelaslah bahwa tujuan pendidikan idealnya adalah bernilai spiritual keagamaan, pendidikan tidak boleh kosong dari nilai serta norma-norma keagamaan. Jika ia kosong dari nilai dan norma keagamaan, maka ia seolah kehilangan ruhnya, hampa dan kurang berarti.

3. Integrasi Ilmu Pengetahuan

Islam telah mengajarkan kepada kita masalah akidah, ibadah, akhlak, muamalah dan Islam juga mengajarkan masalah sosial ekonomi, politik, hukum dan lain sebagainya. Islam mengurus masalah dunia dan akhirat, jasmani dan rohani, lahir dan batin. Al-Qur’an sebagai sumber hukum utama dalam Islam, selain berisi ayat-ayat tentang ilmu-ilmu agama juga berisi ayat-ayat tentang ilmu umum temasuk konsep-konsep dalam matematika, sebagai contoh Q.S. 35:1, 37:147,18:25, 29:14, dan lain lain. Al-qur’an juga memuat tentang metode pengembangan ilmu pengetahuan termasuk ilmu matematika, sebagai contoh Q.S. 2:31 (definisi) dan Q.S. 6: 74-79 (riset). Selanjutnya mengenai perintah untuk melakukan penelitian (suatu kegiatan yang penting di dalam pengembangan sains), secara umum dapat dilihat antara lain dalam firman-Nya pada surat Yunus, ayat ke-101 “Katakanlah Muhammad: lakukanlah nadzor (penelitian dengan menggunakan metode ilmiah) mengenai apa-apa yang ada di langit dan bumi.

Perintah lebih khusus terdapat dalam surat al-Ghosiyah, ayat ke-17–20 yang artinya: “Apakah mereka tidak memperhatikan onta, bagaimana ia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung, bagaimana ia ditancapkan. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan”. Ayat-ayat tersebut merupakan ayat-ayat metode ilmiah, yang memerintahkan kepada umat manusia untuk selalu meneliti. Kegiatan penelitian yang mencakup pengamatan, pengukuran, dan analisa data telah membawa perubahan besar dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk ilmu matematika. “niscaya Allah akan meninggikan orangorang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu amalkan”. (Q.S. Al Mujadilah : 11)

Banyak sekali dalil yang menunjukkan adanya integrasi ilmu pengetahuan dalam Islam. Islam adalah ajaran yang lengkap dan menyeluruh, tidak memisahkan antara masalah agama dan ilmu pengetahuan, tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Allah swt. berfirman: “Pada hari ini telah kusempurnakan bagi kalian agama kalian…”.[11] Allah swt. juga berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (77(
Artinya “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.[12]

Rasulullah saw. bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”.[13]

Pertanyaannya adalah ilmu apa yang perlu dicari? Tentunya keumuman hadis di atas menunjukkan bahwa semua ilmu yang bermanfaat harus dipelajari dan semua ilmu yang memberi manfaat dan maslahat untuk kehidupan manusia harus dicari serta dikuasai. Sebagaimana doa Rasulullah saw. yang menyebutkan bahwa beliau meminta perlindungan kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat. Hadis tersebut adalah:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَقُوْلُ: اللّهُمَّ اِنّى اَعُوْذُ بِكَ مِنَ اْلاَرْبَعِ: مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَ مِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَ مِنْ دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ.
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW bersabda,"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari empat perkara. Dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’ dari jiwa yang tidak pernah kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan)”.[14]

Inilah sebenarnya area, materi dan kontent dalam pendidikan islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis. Tidak ada dikotomi ilmu dalam pendidikan islam, semisal ilmu umum dengan ilmu agama, ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Lebih jauh lagi terkait dengan ilmu dan agama, sungguh luar biasa ungkapan Einstein seorang fisikawan modern yang secara normatif non-islam tapi dengan lantang berkata : ”Religion without science is lame, but science without religion is blind” (agama tanpa ilmu adalah pincang, tapi ilmu tanpa agama adalah buta).[15]

Berdasarkan sejarah peradaban Islam, jelas sekali kita mendapati bahwa Islam pernah menguasai 2/3 belahan bumi adalah karena umat Islam mengamalkan seluruh ajaran Islam tanpa memisahkan urusan dunia dari urusan agama, tanpa memisahkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Di masa itulah banyak muncul ulama dan cendikiawan muslim terkenal seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, al-Ghazali dan lain-lain.

Dalam konteks Indonesia, usaha integrasi ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum pernah dilakukan oleh M. Natsir sebagaimana tertuangkan dalam buku Capita Selecta. Menurut Natsir, pendidikan islam yang integral tidak mengenal adanya pemisahan antara sains dengan agama. Karena penyatuan antara sistem-sistem pendidikan islam adalah tuntutan akidah islam.[16]

4. Spritualisasi Pendidik dan Peserta Didik

a. Spritualisasi Pendidik

Kinerja guru banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah spiritualitas. Spiritualitas didefinisikan sebagai perbuatan yang berorientasi filosofis, semua perbuatan disandarkan karena mengenal Allah, dan untuk kebahagiaan jiwa.[17] Spiritualitas adalah aktivitas manusia yang bermuara kepada kehakikian, keabadian, dan ruh, dan bukan hanya bersifat sementara, dan merupakan dorongan bagi seluruh tindakan manusia. Spiritualitas mengandung pengertian hubungan manusia dengan Tuhannya.[18]

Spiritualitas mempunyai korelasi yang kuat terhadap sikap kerja seseorang.[19] Spiritualitas dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja organisasi, produktivitas dan profitabilitas. Spiritualitas dapat membuat karyawan lebih efektif dalam bekerja, karena mereka melihat pekerjaannya sebagai alat untuk meningkatkan spiritualitas sehingga karyawan akan menunjukkan usaha yang lebih besar dibanding karyawan yang melihat pekerjaannya hanya sebagai alat untuk memperoleh penghasilan berupa materi.[20]

Berdasarkan hal-hal di atas, maka spritualisasi pendidik sangat penting dilakukan agar kualitas dan kinerja seorang pendidik bisa dijaga dan dijamin. Diantara metode yang dapat dilakukan dalam rangka spritualisasi pendidik adalah:

1) Rekrutmen guru atau pendidik yang berasal dari sekolah berbasis ilmu keislaman yang baik.
2) Pemberian diklat metode pengajaran berbasis Islam.
3) Studi banding ke lembaga-lembaga yang berbasis keislaman yang baik.

4) Adanya pengawasan, pemberian sugesti dan motivasi dari atasan terhadap para pendidik untuk lebih mendalami Islam dan meningkatkan pengamalannya serta memberikan suri teladan kepada peserta didik.

b. Spritualisasi Peserta Didik

Syekh Khalid al-Hazimy mengatakan bahwa pendidikan Islam memiliki beberapa keistimewaan dan karakteristik yang tidak ada pada pendidikan selain Islam. Diantara keistimewaan pendidikan Islam adalah rabbaniyah, lengkap, komprehensip dan terpadu, juga seimbang dan realistis.[21] Rabbaniyah artinya adalah bahwa pendidikan dalam Islam bersumber dari rabb (Tuhan), seimbang artinya pendidikan Islam mengajarkan aspek lahir dan batin, aspek jasmani dan rohani, aspek dunia dan akhirat. Beliau juga mengatakan bahwa tujuan pendidikan dalam Islam diantaranya adalah pembinaan akidah yang benar dan pembinaan ibadah. [22] Di dalam Undang-undang SPN no.20 tahun 2003 pasal 3 juga telah ditegaskan bahwa tujuan pendidikan nasional yang paling utama dan pertama adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sayyid Sabiq menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah upaya mempersiapkan anak dari segi jasmani, akal, dan rohani sehingga ia menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat untuk dirinya maupun umat.[23] Yusuf al-Qardawi menyatakan pendidikan Islam adalah sebagai pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaniyah, akhlak dan keterampilannya, dan menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.[24]

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan yang diharapkan adalah pendidikan yang berorientasi kepada maslahat dunia dan maslahat akhirat, pendidikan yang dapat mengembangkan potensi peserta didik baik bidang spiritual keagamaan, mental maupun keterampilan. Dengan inilah maka kebahagiaan dunia dan akhirat dapat diraih dan dicapai sebagaimana doa yang senantiasa kita baca: “Ya Rabb kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat dan jauhkanlah kami dari siksa neraka”. Dengan ini juga, manusia bias menjadi khalifah di permukaan bumi. Menjadi khalifah di atas bumi adalah merupakan fungsi dari manusia setelah diciptakan Allah yang bertujuan untuk mengabdi kepada Allah.[25] Dengan khilafah ini jugalah kehidupan dunia akan tentram damai dan sejahtera karena diatur oleh manusia beriman, diatur dengan aturan Allah swt. yang sangat sempurna, tidak ada kekurangannya sama sekali.

Spritualisasi peserta didik bisa dilakukan dengan banyak cara dan metode, diantaranya adalah:

1) Bimbingan kehidupan beragama, dapat dilakukan melalui bimbingan konseling atau halaqah-halaqah.

2) Adanya uswatun hasanah / suri teladan dari seluruh pendidik dan tenaga kependidikan. Keteladanan ini akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada diri peserta didik.

3) Mengadakan malam ibadah, dapat diisi dengan dengan menampilkan acara-acara yang merangsang untuk semakin tebalnya emosi beragama, seperti tausiyah, doa, membaca Al-Qur’an, zikir, istighfar dan lain-lain.

4) Mengadakan pesantren kilat.[26] Mengadakan pesantren kilat terutama untuk sekolah-sekolah yang tidak berbasis agama akan memberikan pengaruh positif pada diri peserta didik.

5) Menyediakan iklim religius untuk peserta didik di sekolah. Untuk mengoptimalkan pendidikan agama di sekolah maka perlu menciptakan suasana religius yang kental di lingkungan pendidikan, meliputi tata pergaulan, pakaian, lingkungan sekolah, praktik ibadah dan lain-lain.[27]

6) Tadarus Alquran setiap hari sebelum memulai pelajaran.

7) Membiasakan shalat dhuha setiap pagi.

8) Shalat zhuhur berjamaah sebelum pulang sekolah.

9) Dan lain-lain.

5. Spritualisasi Kepemimpinan Pendidikan

Spritualisasi kepemimpinan pendidikan adalah usaha menjadikan para pemimpin lembaga pendidikan memiliki jiwa spiritualitas yang baik. Hal ini sangat penting dilakukan, mengingat para pemimpin adalah orang yang paling bertanggungjawab atas kemajuan dan peningkatan kualitas lembaga pendidikan. Berbagai persoalan yang komplek, tentunya bisa membuat para pemimpin kehilangan keseimbangan dan kalau tidak tahan goncangan maka akan berpengaruh pada keberhasilan kepemimpinan. Untuk itu seorang pemimpin seyogyanya perlu mengembangkan aset yang berupa spiritualitas. Hal ini karena telah dicontohkan Nabi Muhammad Saw sebagai panutan umat Islam. Muhammad Saw sebagai pembawa ajaran agama Islam, ternyata merupakan figur pemimpin dunia yang dikagumi akan keberhasilannya. Beliau ternyata tidak meninggalkan dimensi spiritualitas. Muhammad Saw meraih hasil luar biasa melalui sebab yang tidak bisa lepas dari keberadaan dan praktek spiritualitas.[28]

Pemimpin yang berbasis spiritualitas adalah seorang pemimpin yang memiliki ciri-ciri, diantaranya adalah bahwa mereka hanya mempertuhankan Allah saja. Mereka tidak akan mempertuhankan hawa nafsunya, harta, tahta, dan jabatannya.[29]

Spritualisasi kepemimpinan pendidikan bisa dilakukan dengan:

a. Pemberian diklat manajemen berbasis Islam.

b. Studi banding ke lembaga-lembaga yang berbasis keislaman yang baik.

c. Adanya pemberian sugesti dan motivasi dari atasan terhadap para pimpinan lembaga pendidikan untuk lebih mendalami Islam dan meningkatkan pengamalannya serta memberikan suri teladan kepada civitas akademik.

Daftar Pustaka

Abdullah, Abdurrahman Saleh, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2007.

al-Hazimy, Khalid bin Hasan, Ushul at-Tarbiyah al-Islamiyah, Medinah: Darul Alam al-Kutub, 1420 H.

al-Qardhawi, Yusuf, Pendidikan Islam dan Madrasah terjemahan Bustani A. Gani dan Zainal Ahmad, Jakarta: Bulan Bintang, 1980.

Al-Syibany, Omar Mohammad Al-Toumy, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan langgulung, Syah Alam: HIZBI, 1991.

Azra, Azyumardi,dkk, Integrasi Keilmuan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Menuju Universitas Riset, Jakarta : UIN Jakarta Press, 2006.

Hamid, Hamdani, Pengembangan Kurikulum Pendidikan, Bandung : Pustaka Setia, 2012.

Hawali, Safar, al-‘Ilmaniyah, Mekah: Daru Makkah, 1982.

Langgulung, Hasan, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam, Bandung: al-Ma’arif, 1980.

Ma’arif, Syamsul, Revitalisasi Pendidikan Islam, Yogyakarta : Graha Ilmu, 2007.

Majid, Abdul dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004.

Nata, Abudin, dkk. Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, Ciputat: UIN Jakarta Press, 2003.

Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.

Nihaya, Filsafat Umum : dari Yunani sampai Modern, Makassar: Berkah Utami, 1999.

Praja, Juhaya S., Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, Bogor : Kencana, 2003.

Pardoyo,.Sekularisasi Dalam Polemik, 1993.

Syukur, Amin, Sufi Healing, Terapi dengan Model Tasawuf, Jakarta : Erlangga, 2012.

Sabiq, Sayyid, Islamuna, Bairut: Dār al-Kutub al-‘Arabi, t.th.

Tahir, M., Negara Hukum Suatu Tentang Prinsip-prinsipnya Dilihat dari Segi Hukum Islam, Implementasinya pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini , Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007..

Tafsir, Ahmad, Filsafat Pendidikan Islami: Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu Memanusiakan Manusia, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006.

Tim Penyusun Kamus Pustaka Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002.

Footnote

[1] https://kbbi.web.id/spiritual, diakses pada 16 Desember 2017.
[2] John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.2005), h. 546.
[3] https://dosenbahasa.com/makna-imbuhan-serapan-isme-isasi-logi-or, diakses 3 Mei 2018.
[4] Danah Zohar dan Ian Marshall, KS Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, Terj. Astuti Rahmani, (Bandung : Mizan, 2002), h. 8.
[5] Sukidi, Rahasia Sukses Hidup Bahagia Kecerdasan Spiritual Mengapa KS Lebih Penting dari pada IQ dan EQ, (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Umum, 2002), h. 28-29.
[6] Moh. Natsir Mahmud, Landasan Paradigma Islamisasi Ilmu Pengetahuan, (Jakarta : Gramedia, 1986), h. 129.
[7] Khalid bin Hasan al-Hazimy, Ushul at-Tarbiyah al-Islamiyah, (Medinah: Darul Alam al-Kutub, 1420 H., h. 73.
[8]Sayyid Sabiq, Islamuna (Bairut: Dār al-Kutub al-‘Arabi, t.th), h. 237.
[9]Yusuf al-Qardhawi, Pendidikan Islam dan Madrasah terjemahan Bustani A. Gani dan Zainal Ahmad (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), h. 39.
[10] Ibnu Rusn, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 60.
[11] QS. Al-Maidah: 3.
[12] QS. Al-Qashash: 77.
[13] HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224.
[14] HR. Abu Dawud, di dalam kitab Shalat, bab Isti’adzah
[15] Syamsul Ma’arif, Revitalisasi Pendidikan Islam, (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2007), h. 33.
[16] Abudin Nata, dkk. Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, (Ciputat: UIN Jakarta Press, 2003), Cet 1, h. 172.
[17] David A. Leeming, Kathryn Madden, Stanton Marlan (Eds.) Encyclopedia of Psychology and Religion, (New York: Springer Reference, tt.), 872.
[18] Ahmad Suaedy, “Spiritualitas dan Modernitas Antara Konvergensi dan Devergensi” dalam Agama, Spiritulitas Baru dan Keadilan Perspektif Islam, ed. Elga Sarapung, dkk (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 202.
[19] Sanerya Hendrawan, Spiritual Management from Personal Enlightenment Toward God Corporate Governance, (Bandung: Mizan, 2009), 75.
[20] Harlina Nurtjahjanti . “Spiritualitas Kerja sebagai Ekspresi Keinginan Diri Karyawan untuk Mencari Makna dan Tujuan Hidup dalam Organisasi”. Jurnal Psikologi Undip Vol. 7, No. 1, April 2010, 1
[21] Khalid bin Hasan al-Hazimy, Ushul at-Tarbiyah al-Islamiyah, (Medinah: Darul Alam al-Kutub, 1420 H)., h. 45-52.
[22] Ibid, h. 73.
[23]Sayyid Sabiq, Islamuna (Bairut: Dār al-Kutub al-‘Arabi, t.th), h. 237.
[24]Yusuf al-Qardhawi, Pendidikan Islam dan Madrasah terjemahan Bustani A. Gani dan Zainal Ahmad (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), h. 39.
[25] QS. Az-Zariyat: 56.
[26] Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam Dalam Mencerdaskan Bangsa, (Jakarta: Rineka Cipta, 2012), h.39-41.
[27] Ibid, h. 42
[28] John Clark Archer B.D, Dimensi Mistis dalam Diri Muhammad , terj. Ahmad Asnawi (Yogyakarta: Diglossia, 2007), h. x.
[29]Toto Tasmara, Kepemimpinan Berbasis Spiritual, (Jakarta: Gema Insani, 2006), h. xvii

Posting Komentar

0 Komentar