KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU | Sopian Sinaga, MPdI

KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU

Oleh Sopian Sinaga, MPdI

A. Pendahuluan

Allah swt. telah menciptakan manusia dengan sempurna. Hal itu diawali dengan penciptaan Nabi Adam a.s. Setelah Allah swt. menciptkan manusia, Allah tidak membiarkan begitu saja tanpa ada bimbingan, namun Allah swt. mengutus para Rasul-Nya untuk mengajarkan syariat Allah swt. Barangsiapa mentaatinya maka ia akan masuk surga, dan barangsiapa yang membangkang, maka ia akan menjadi penghuni neraka.[1]

Tanpa bimbingan dari Allah melalui kitab suci-Nya dan para Rasul-Nya maka bisa dipastikan manusia akan berada dalam kegelapan dan kehidupan yang tersesat jauh dari kebenaran. Karena kebenaran yang hakiki adalah berasal dari Allah swt.[2] Oleh sebab itulah Allah swt. dengan rahmat dan karunia-Nya memberikan kepada kita petunjuk hidup untuk mengarungi kehidupan yang sementara ini agar kita mengetahui hakikat dari penciptaan kita, apa tujuan hidup kita, kemana kita akan kembali, apakah ada hari kebangkitan sesudah mati dan seterusnya.

Untuk mengetahui hakikat itu semua, maka perlu mencari ilmunya dan mempelajarinya dengan baik agar umat manusia dapat mengarungi kehidupan di dunia ini dengan baik. Lantas, ilmu apakah yang penting dan wajib dipelajari, mengapa kita dituntut untuk mempelajarinya? Inilah beberapa point yang pemakalah mencoba untuk membahasnya pada kali ini. Semoga Allah swt. memudahkan pemakalah untuk menyelesaikannya dengan baik, amin ya rabbal alamin.

B. Pembahasan

1. Pengertian ilmu

Ilmu secara bahasa adalah lawan dari al-jahl (kebodohan), yaitu mendapati dan mengetahui sesuatu sesuai dengan realitanya dengan penuh keyakinan.[3] Sementara ilmu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu.[4]

Adapun secara istilah, ilmu adalah ilmu syar’i (ilmu agama). Ilmu syar’i yang dimaksud yaitu ilmu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya berupa petunjuk dan penjelasan.[5] Inilah yang dimaksudkan oleh Nabi ketika beliau bersabda bahwasanya para Nabi tidak mewarisi uang dinar ataupun dirham, namun yang mereka warisi adalah ilmu, barangsiapa yang mengambilnya maka sungguh ia sudah mengambil bagian yang sempurna.[6]

2. Kemuliaan Ilmu

Kemuliaan ilmu adalah sesuatu yang nyata dan diyakini semua orang yang berakal, karena ia bisa dibuktikan secara logika dan akal sehat. Selain dengan logika, kemuliaan ilmu dijelaskan dalam banyak sekali dalil, baik dalil dari Alquran, hadis maupun perkataan ulama. Berikut ini beberapa dalil yang menunjukkan keutamaan dan kemuliaan ilmu, yaitu:

a. Imam Bukhari di awal tulisan beliau tentang pembahasan ilmu (kitabul ilmi) beliau menyebutkan yang pertama sekali adalah bab keutamaan ilmu. Di dalam bab tersebut beliau mencantumkan dua ayat dari alquran, yaitu:

1) Allah swt. berfirman:

يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات والله بما تعملون خبير 
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan menuntut ilmu beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui apa yang kalian perbuat”.[7]

2) Allah swt. berfirman: 

وقل رب زدني علما
Dan katakanlah: “Ya rabb! Tambahkanlah ilmu untukku”.[8]

b. Imam Bukhari membuat satu bab dalam kitabnya yaitu Bab berilmu sebelum berkata dan beramal.[9] Dari sini para ulama mengatakan bahwa tidaklah Imam Bukhari membuat bab dengan judul sedemikian kecuali karena menunjukkkan kemuliaan ilmu dan keutamaannya atas amal.

c. Imam Al-Gazali dalam kitabnya Ihya Ulumid Din, menyebutkan keutamaan ilmu yang sangat banyak dari nas Alquran, hadis dan perkataan ulama, diantaranya adalah yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib:[10]

العلم خير من المال العلم يحرسك وأنت تحرس المال والعلم حاكم والمال محكوم عليه والمال تنقصه النفقة والعلم يزكو بالإنفاق
d. Syekh Khalid bin Hamid al-Hazimi mengatakan bahwa ilmu itu di sisi Allah sangat agung dan mulia, sementara kebodohan adalah buruk begitu juga di pandangan manusia, hal itu dapat dilihat dari beberapa hal berikut:[11]

1) Ilmu itu adalah kehidupan, sementara kebodohan itu adalah kegelapan dan kematian.

2) Allah swt. telah memuliakan anjing yang terdidik dengan ilmu yang ia miliki. Hal itu terlihat manakala Allah swt. menghalalkan hewan buruannya, sementara anjing yang tidak terdidik maka buruannya tidak halal dimakan.

3) Allah swt. telah memberikan gelar untuk para penghuni neraka dengan gelar jahil (orang bodoh) seperti yang disebutkan dalam Alquran.[12]

4) Butuhnya manusia terhadap ilmu sama seperti butuhnya mereka kepada air hujan, bahkan melebihi kebutuhan terhadap hujan. Sehingga manusia yang tidak berilmu seperti bumi yang tidak mendapat air hujan. Dalam sebuah hadis yaitu dari Abu Musa al-Asy’ari bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

(مثل ما بعثني الله به من الهدى والعلم كمثل الغيث الكثير أصاب أرضاً ، فكان منها نقية قبلت الماء فأنبتت الكلأ والعشب الكثير ، وكانت منها أجادب أمسكت الماء ، فنفع الله بها الناس فشربوا وسقوا وزرعوا ، وأصاب منها طائفة أخرى إنما هي قيعان لا تمسك ماءً ولا تنبت الكلأ فذلك مثل من فقه في دين الله ونفعه ما بعثني الله به فعلم وعلم ، ومثل من لم يرفع بذلك رأساً ، ولم يقبل هدى الله الذي أرسلت به .(
“Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang diutus Allah kepadaku seperti hujan yang membasahi bumi. Ada bumi yang subur yang menerima air kemudian menumbuhkan rumput yang banyak. Ada bumi yang keras yang menahan air kemudian dengannya Alloh memberi manfaat kepada manusia. Mereka meminum dari air tersebut, memberi minum hewan ternaknya, dan bercocok tanam. Hujan juga membasahi bumi yang lain, yaitu lembah yang tidak mampu menahan air dan menumbuhkan rumput. Demikianlah perumpamaan orang yang memahami agama Alloh kemudian mendapat manfaat dari apa yang aku diutus dengannya. Ia belajar dan mengajar. Dan itulah perumpamaan orang yang tidak bisa diangkat kedudukannya oleh petunjuk Alloh, dan tidak menerima petunjuk Alloh yang aku di utus dengannya.”[13]

5) Ilmu dan keimanan ibarat ruh dan jasad. Jasad tanpa ruh tidak berguna sama sekali karena ia sudah menjadi mayat. Demikian juga keimanan tanpa ilmu, maka ia bisa berabahaya. Oleh sebab itu jelaslah bahwa ilmu itu sangat mulia dan berharga sehingga menuntutnya sangat penting.

e. Syekh Muhammad bin Saleh al-Uṡaimin menyebutkan beberapa keutamaan ilmu, yaitu:[14]

1) Bahwa ilmu adalah warisan para Nabi.
2) Bahwasanya ilmu itu kekal.
3) Bahwasanya Rasulullah saw. senang dengan ilmu.
4) Bahwasanya ilmu adalah jalan menuju surge.
5) Bahwasanya ilmu adalah cahaya yang seorang hamba menjadikannya pelita kehidupan.
6) Bahwasanya Allah memuliakan ahli ilmu di dunia dan di akhirat.

f. Imam Ahmad mengatakan bahwa kemuliaan ilmu itu tidak ada yang menandinginya suatu apapun jika niatnya betul-betul lurus dan ikhlas.[15] Syekhah Ummu Tamim mengatakan diantara yang menunjukkan kemuliaan dan keutamaan ilmu dan ahli ilmu adalah:[16]

1) Ilmu adalah harta terbaik yang dimiliki manusia.
2) Ilmu adalah karunia dari Allah.
3) Allah mengajarkan kepada Nabi-Nya untuk meminta tambahan ilmu.
4) Allah swt. telah mencela orang-orang jahil.
5) Allah telah memerintahkan berilmu sebelum beramal seperti dalam Alquran Surat Muhammad ayat 19.
6) Orang jahil seperti orang buta.
7) Orang berilmu mengetahui kebenaran.
8) Tingginya derajat orang berilmu

3. Kemuliaan Ahli Ilmu

Dari penjelasan sebelumnya, dapat dikatakan bahwa ilmu itu sangat mulia dan berharga, karena itu maka orang yang berilmu atau ahli ilmu adalah orang mulia. Sebagaimana Alquran adalah kitab yang mulia, mushaf dan penghafal Alquran serta pengajarnya juga ikut menjadi mulia. Hal itu sangat logis dan masuk akal, apatah lagi jika dilihat dalil-dalil yang ada, maka menambah bukti akan kemuliaan ahli ilmu. Diantara dalil yang menunjukkan kemuliaan ahli ilmu adalah:

a. Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 18 :

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُوْلُو العِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ العَزِيزُ الحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Terkait ayat ini, Imam Ibnul Qayyim mengatakan ada 10 sisi yang menunjukkan kemuliaan ilmu dan kemuliaan ahli ilmu berdasakan ayat ini, diantaranya adalah:

1) Allah telah memilih mereka (ahli ilmu) dari antara seluruh umat manusia.
2) Allah menyamakan persaksian mereka dengan dengan persaksian malaikat.
3) Allah menggabungkan persaksian mereka dengan persaksian Allah swt.
4) Allah memuji persaksian mereka merupakan dalil bahwa Allah telah mengakui keadilan mereka.
5) Allah swt. telah menerima kesaksian mereka atas sesuatu yang paling agung, yaitu persaksian atas kalimat tauhid.[17]

b. Rasulullah saw. bersabda dalam hadis Abu Daud dan disahihkan oleh Syekh Albani:[18]

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ.
“Barangsiapa menempuh satu jalan dalam rangka untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan sungguh malaikat meletakkan sayap mereka karena ridha terhadap para penuntut ilmu. Sungguh seorang ulama itu dimintakan ampun oleh semua yang di langit dan di bumi termasuk ikan yang di dalam air. Sungguh keutamaan seorang ulama atas seorang awam seperti keutamaan bulan purnama atas semua bintang di langit. Dan sungguh ulama adalah pewaris para Nabi”.

Hadis ini jelas menunjukkan betapa mulianya seorang ahli ilmu. Setidaknya dua hal yang menunjukkan kemuliaan ulama sesuai dengan hadis ini, yaitu kemuliaan ulama dibanding dengan orang awam ibarat kebesaran bulan purnama atas bintang-bintang dan yang kedua bahwasanya ulama adalah pewaris para Nabi.

c. Rasulullah saw. bersabda: [19]

إِنَّ اللهَ لا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً، فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan ahli ilmu. Betapa tidak, tanpa mereka manusia kehilangan arah, tidak mengerti jalan yang lurus jalan yang membawa mereka kepada pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. Tanpa keberadaan ahli ilmu, manusia akan terjerumus kepada kesesatan dan ujungnya adalah kehancuran dan kebinasaan.

d. Syekh Muhammad Ali al-Hasyimi mengatakan bahwa cukuplah bagi penuntut ilmu untuk bersemangat dalam belajar karena Allah telah mengkhususkan para ahli ilmu sajalah yang takut dan bertaqwa kepada Allah seperti tercantum dalam Aquran Surat Fatir ayat 28.[20]

e. Ahli ilmu sangat dibutuhkan oleh umat, karena merekalah yang menjelaskan kepada umat tentang isi Alquran dan Sunnah. Walaupun Alquran dan Sunnah mudah dipahami, namun tetap saja umat butuh kepada Ulama dan ahli ilmu, karena itulah Allah berfirman:[21] 

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون 

4. Dalil yang Menunjukkan Kewajiban Menuntut Ilmu

Setelah jelas bagi kita keutamaan ilmu dan ahli ilmu, maka wajibnya menuntut ilmu itu bukanlah suatu hal yang diperdebatkan orang, apalagi banyak dalil yang menunjukkan kewajiban untuk menunut ilmu. Berikut ini beberapa hadis yang menunjukkan kewajiban menuntut ilmu, yaitu:

a. Rasulullah saw. bersabda: [22] 

طلب العلم فريضة على كل مسلم
Hadis ini sangat jelas dan lugas menegaskan wajibnya kita untuk belajar dan menuntut ilmu. Berdosalah orang yang tidak mau belajar dan menuntut ilmu.

b. Hadis Nabi yang menceritakan seorang yang sudah membunuh 100 orang, yaitu hadis dari Abu Said al-Khudri, bahwasanya Nabi saw. bersabda:[23]

كان فيمن كان قبلكم رجل قَتَلَ تِسْعةً وتِسْعين نفسًا، فسأَل عن أَعلمِ أهلِ الأرضِ فدُلَّ على راهِبٍ، فأتاه، فقال: إنه قَتَل تِسعةً وتسعِينَ نَفْسًا، فَهلْ له مِنْ توْبَةٍ؟ فقال: لا، فقتلَهُ فكمَّلَ بِهِ مائةً، ثمَّ سأل عن أعلم أهلِ الأرضِ، فدُلَّ على رجلٍ عالمٍ، فقال: إنه قتل مائةَ نفسٍ، فهل له من تَوْبة؟ فقالَ: نعم، ومنْ يحُول بيْنه وبيْنَ التوْبة؟ انْطَلِقْ إِلَى أرض كذا وكذا؛ فإن بها أُناسًا يعْبدون الله تعالى فاعْبُدِ الله معهم، ولا ترجعْ إِلى أَرْضِكَ؛ فإِنها أرضُ سُوءٍ، فانطَلَق حتَّى إِذا نَصَف الطَّريقُ، أَتَاهُ الموتُ فاختَصمتْ فيه مَلائكة الرَّحْمة وملائكةُ العَذابِ، فقالتْ ملائكةُ الرَّحْمة: جاء تائِبًا مُقْبلاً بِقلبه إلى اللَّه تعالى، وقالَتْ ملائكة العذاب: إنه لمْ يَعْمل خيرًا قطُّ، فأَتَاهُمْ مَلكٌ في صورة آدمي، فجعلوه بينهم؛ أَي: حَكمًا، فقال: قيسوا ما بينَ الأَرْضَينِ، فإِلَى أَيَّتِهما كَان أَدْنى فهْو لَهُ، فقاسُوا فوَجَدُوه أَدْنى إِلَى الأرض التي أَرَادَ فَقبَضَتْهُ مَلائكَةُ الرحمة
Salah satu faedah yang bisa ditarik dari hadis yang cukup panjang ini adalah wajibnya menuntut ilmu, karena dengan ilmulah kita dapat mengetahui kebenaran, dengan ilmu jugalah kita dapat memberi fatwa yang benar tidak salah. Dalam hadis ini jelas kebodohan berakibat fatal, yaitu bertambahnya perbuatan kriminal. Maka dari itu, agar kita tidak mendapat mudorot dari orang lain atau orang lain mendapat mudorot dari kita, maka menuntut ilmu yang bermanfaat adalah wajib bagi kita.

c. Hadis tentang sahabat Nabi yang salah fatwa, diterima dari Jabir beliau mengatakan:[24]

خَرَجْنَا فِي سَفَرٍ، فَأَصَابَ رَجُلًا مِنَّا حَجَرٌ، فَشَجَّهُ فِي رَأْسِهِ، ثُمَّ احْتَلَمَ، فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ، فَقَالَ: هَلْ تَجِدُونَ لِي رُخْصَةً فِي التَّيَمُّمِ؟ فَقَالُوا: مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ، فَاغْتَسَلَ، فَمَاتَ. فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ: قَتَلُوهُ قَتَلَهُمْ اللَّهُ، أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا؛ فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ، إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ، وَيَعْصِبَ عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً، ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا، وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ
Salah satu faedah yang bisa ditarik dari hadis ini adalah wajibnya berilmu, karena dengan ilmulah kita dapat mengetahui kebenaran, dengan ilmu jugalah kita dapat memberi fatwa yang benar tidak salah. Dalam hadis ini jelas kebodohan berakibat fatal, yaitu wafatnya seseorang dengan sia-sia karena salah fatwa sehingga menyebabkan Nabi saw. marah besar. Karena pentingnya ilmu itu kita pelajari maka ulama mengatakan bahwa ilmu adalah kehidupan sementara kebodohan adalah kematian. Apa yang dikisahkan dalam hadis ini jelas membenarkan pernyataan ini.

d. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Syihab beliau berkata: “Telah berkata Humaid bin Abdurrahman bahwasanya beliau mendengar Muawiyah berpidato, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar Nabi saw. bersabda: 

 من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين.[25] 

Dalam hadis ini Rasulullah saw. menjelaskan bahwa jika Allah ingin kebaikan untuk seorang hamba, niscaya Allah berikan ia kepahaman dalam agama. Semua manusia menginginkan kebaikan hidup di dunia maupun kebaikan akhirat. Karena itu maka hadis ini menegaskan wajibnya manusia untuk belajar dan menuntut ilmu agama, dengan itulah kebahagiaan akan ia peroleh. Karena mencari kebahagiaan adalah wajib, maka dapat kita katakan bahwa belajar juga wajib, karena dengannyalah kita bisa meraih kebahagiaan yang kita inginkan insya Allah.

e. Dari anas beliau berkata: “Rasulullah saw. telah bersabda: 

إن من أشراط الساعة أن يرفع العلم ويثبت الجهل ويشرب الخمر ويظهر الزنا .[26]

Dari hadis ini dapat disimpulkan bahwa diantara tanda-tanda kiamat adalah terangkatnya ilmu, tetapnya kejahilan, khamar diminum dan merajalelanya perzinahan. Ketika Nabi menyandingkan hilangnya ilmu atau terangkatnya ilmu dengan beberapa perkara yang buruk, maka ini menunjukkan perintah untuk menimba ilmu sehingga kejahilan dapat dihilangkan, dan selanjutnya dengan hilangnya kejahilan maka diharapkan kemaksiatan berupa minum-minum khamar dan perzinahan dapat dihilangkan. Kewajiban menuntut ilmu dari hadis ini disimpulkan karena suatu perintah pada prinsipnya adalah wajib untuk ditaati.

Wajibnya menuntut ilmu dalam hadis ini juga karena kita wajib menjaga umat dari kajahilan dan kemaksiatan, dan dengan ilmulah kejahilan dan kemaksiatan bisa diatasi insya Allah. Hal itu karena ilmu ibarat cahaya, sementara kejahilan adalah seperti kegelapan, kegelapan akan sirna dengan sendirinya tatkala cahaya datang.


f. Dari Abdullah bin Amr bin Ash, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: [27] 

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا .

Kewajiban menuntut ilmu dapat dipahami dari hadis ini dengan jelas. Hal itu dilihat dari dampak negatif yang timbul dari wafatnya para ulama, sehingga manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh tidak berilmu. Kebodohan mereka itu bukan hanya menyesatkan diri mereka pribadi, namun juga menyesatkan manusia lainnya. Ini adalah sangat berbahaya dan fitnah bagi umat manusia. Oleh sebab itu jika kita menginginkan kebaikan untuk umat ini, maka jalannya adalah melalui ilmu, dengan itu manusia akan terhindar dari kesesatan sehingga mereka dapat mencapai tujuan hidup yang sebenarnya.

5. Ilmu yang Wajib Dipelajari

Berdasarkan dalil dan perkataan ulama maka ilmu yang wajib dipelajari itu adalah ilmu agama. Hal itu sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumid Din setelah menyebutkan pendapat-pendapat ulama, maka beliau menjelaskan pendapat yang menurut beliau paling kuat bahwa ilmu yang wajib dipelajari adalah ilmu yang dituntut seorang muslim untuk mengamalkannya dan ilmu yang membuat ia bahagia di dunia dan selamat dari perkara-perkara yang merusak.[28] Kewajiban menuntut ilmu agama juga ditegaskan oleh Syekh Muhammad At-Tamimi bahwasanya wajib mempelajari 4 hal, yang pertama adalah ilmu yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi Muhammad dan mengenal Islam dengan dalilnya.[29] Diantara dalil yang menunjukkan bahwa ilmu yang wajib dipelajari adalah ilmu syar’i atau ilmu agama adalah:

a. Firman Allah swt.:

ومَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ.[30]

b. Hadis Rasulullah saw. yang diterima dari Muawiyah, beliau berkata:[31]

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراً يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَاللهُ المُعْطِي وَأنَا القَاسِمُ، وَلا تَزَالُ هَذِهِ الأُمَّةُ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أمْرُ الله وَهُمْ ظَاهِرُونَ

c. Hadis Rasulullah saw. dari Usman bin Affan bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:[32] 

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Ilmu agama inilah yang kelak akan dihisab oleh Allah swt. apakah diamalkan atau tidak. Sebuah hadis dari Abu Barzah berkata: “Rasulullah saw. bersabda:[33]

لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن أربع: عمره فيمَ أفناه؟ وعن علمه فيمَ فعل؟ وعن ماله من أين اكتسبه؟ وفيمَ أنفقه؟ وعن جسمه فيمَ أبلاه))؛ 
“Tidaklah bergerak telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang 4 perkara, yaitu: tentang umurnya, bagaimana ia habiskan, tentang ilmunya, apa yang sudah ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan bagaimana ia membelanjakannya, tentang badannya, bagaimana ia pergunakan”.[34]

Namun ilmu agama itu terbagi dua: ada yang fardu ain dan ada yang fardu kifayah.[35] Ilmu yang fardu ain adalah ilmu yang dengannya manusia bisa meluruskan akidahnya dan menjadikan ibadahnya baik dan sempurna, yaitu ilmu yang kita dituntut untuk mengamalkannya di dunia serta berdosa jika tidak diamalkan seperti ilmu tentang tata cara bersuci, salat, puasa dan lain-lain. Imam Malik pernah ditanya tentang menuntut ilmu apakah wajib atas semua muslim? Beliau menjawab: “Tidak, kecuali yang bermanfaat baginya dalam agamanya”.[36]

Sementara ilmu yang fardu kifayah adalah ilmu yang gugur kewajibannya jika sudah ada orang lain yang melaksanakan. Seperti ilmu warisan, ilmu tentang peradilan dan pemerintahan. Selain ilmu syar’i, seperti ilmu manajemen, perindustrian, peternakan dan lain-lain, maka ia tergantung tujuan dan manfaatnya, jika manfaatnya sangat besar dan harus ada yang mempelajarinya walau sebagian umat maka hukumnya adalah juga fardu kifayah.[37]

Adapun ilmu yang haram adalah ilmu yang merusak akidah, ilmu yang dapat memberikan mudharat dan bahaya. Contohnya adalah ilmu nujum yang dipakai untuk meramal nasib orang, maka ini haram sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Zarnuji dalam kitabnya. Beliau menjelaskan bahwa mempelajari ilmu tersebut haram karena ia adalah ilmu yang tidak bermanfaat dan dapat memudaratkan. Namun jika sebatas untuk mengetahui arah kiblat dan waktu salat, maka itu diperbolehkan.[38] Termasuk ilmu yang berbahaya dan merusak adalah ilmu sihir, maka mempelajarinya adalah haram bahkan ia dapat menjerumuskan pelakunya dalam kekufuran sebagaimana dijelaskan dalam Alquran.[39]

PENUTUP

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memudahkan kami untuk menyelesaikan makalah ini, semoga bermanfaat buat masyarakat terkhusus buat pemakalah pribadi. Di akhir makalah ini pemakalah ingin membuat kesimpulan dari makalah ini, diantaranya adalah:

1. Pengertian ilmu

Ilmu secara bahasa adalah lawan dari kebodohan, yaitu mendapati dan mengetahui sesuatu sesuai dengan realitanya dengan penuh keyakinan. Adapun secara istilah, ilmu adalah ilmu syar’i (ilmu agama). Ilmu syar’i yang dimaksud yaitu ilmu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya berupa petunjuk dan penjelasan tentang syariat Allah kepada hamba-Nya.

2. Kemuliaan ilmu
Diantara kemuliaan ilmu adalah:

a. Bahwa ilmu adalah warisan para Nabi.
b. Bahwasanya ilmu itu kekal.
c. Bahwasanya Rasulullah saw. senang dengan ilmu.
d. Bahwasanya ilmu adalah jalan menuju surga.
e. Bahwasanya ilmu adalah cahaya yang seorang hamba menjadikannya pelita kehidupan.
f. Ilmu itu adalah kehidupan, sementara kebodohan itu adalah kegelapan dan kematian.
g. Allah swt. memuliakan anjing yang terdidik dengan ilmu yang ia miliki sehingga Allah swt. menghalalkan hewan buruannya, sementara anjing yang tidak terdidik maka buruannya tidak hal dimakan.

h. Allah swt. telah memberikan gelar untuk para penghuni neraka dengan gelar jahil (orang bodoh) seperti yang disebutkan dalam Alquran.

i. Butuhnya manusia terhadap ilmu sama seperti butuhnya mereka kepada hujan, bahkan lebih butuh dari hujan. Sehingga manusia yang tidak berilmu seperti bumi yang tidak mendapat air hujan

3. Kemuliaan ahli ilmu

Diantara kemuliaan ahli ilmu adalah:

a. Ahli ilmu adalah pewaris para Nabi.

b. Ahli ilmu sangat dibutuhkan oleh umat, karena merekalah yang menjelaskan kepada umat tentang isi Alquran dan Sunnah.

c. Bahwasanya Allah memuliakan ahli ilmu di dunia dan di akhirat.

d. Allah menyamakan persaksian ahli ilmu dengan dengan persaksian malaikat.

e. Allah menggabungkan persaksian mereka dengan persaksian Allah swt.

f. Allah memuji persaksian mereka merupakan dalil bahwa Allah telah mengakui keadilan mereka.

4. Dalil yang menunjukkan kewajiban menuntut ilmu sangat banyak, diantara adalah sabda Nabi saw. yang mengatakan : “Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim”.[40] Dalil lain adalah akibat fatal yang disebabkan oleh kebodohan berupa bahaya dan kematian sebagaimana yang disebutkan pada 2 hadis terdahulu ini menegaskan wajibnya kita menuntut ilmu. Karena menjauhi bahaya adalah wajib maka sesuai dengan kaedah 

ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب
bisa kita katakan bahwa belajar ilmu yang bermanfaat adalah wajib.

5. Ilmu yang wajib dipelajari adalah ilmu yang dengannya manusia bisa meluruskan akidahnya dan menjadikan ibadahnya baik dan sempurna, yaitu ilmu yang kita dituntut untuk mengamalkannya di dunia serta berdosa jika tidak diamalkan seperti ilmu tentang tata cara bersuci, salat, puasa dan lain-lain. Sementara ilmu yang haram dipelajari adalah ilmu yang tidak bermanfaat dan dapat merusak keyakinan atau membahayakan umat manusia seperti ilmu nujum dan ilmu sihir.

6. Sesudah kita mempelajari ilmu agama dengan baik, kita juga wajib mengamalkannya. Orang yang tidak mengamalkan ilmu yang dipeljarinya akan mendapatkan ancaman murka dari Allah swt. Disebutkan dalam Kitab Matan az-Zubad bahwa orang yang tidak mengamlkn ilmunya, akan disiksa lebih dulu dari penyembah berhala.[41]

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’anul Karim. (Depok: PT Sabiq, tt.)

Abdullah, Bakar bin, Hilyah Talibul Ilmi, Riyadh: Muassasah Syekh Muhammad bin Saleh al-Uṡaimin, 1434 H.

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail, Sahih Al-Bukhari, Kairo: Maktabah al-Iman, 2003.

Al-Ghazali, Muhammad bin Muhammad, Ihya Ulumid Din, Beirut: Darul Ma’rifah, tt.

Al-Hazimi, Khalid bin Hamid, Usul at-Tarbiyah al-Islamiyah, Medinah al-Munawwarah: Daruz Zaman, 1433 H.

Al-Hasyimi, Muhammad Ali, Syakhsiyatul Muslim, Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1425H.

Al-Usaimin, Muhammad bin Shalih, Syarah Usul ṡalaṡah, Riyadh: Darus Surayya, 2005.

Al-Usaimin, Muhammad bin Shalih, Kitab a-Ilmi, Riyadh: Darus Surayya, 2002.

At-Tirmudzi, Muhammad bin Isa, Jami’ at-Tirmidzi, Riyadh: Darus Salam, 2000.

al-Zarnuji, Burhan al-Islam, Ta’lim al-Muta’allim, Beirut: Al-Maktab al-Islami, 1981.

Bar, Yusuf bin Abdil, Al-Ilmu wa Fadluhu, Dammam, Dar Ibnu Jauzi, 1433 H.

Daud, Sulaiman bin Asy’as Abu, Sunan Abi Daud, Riyadh: Darul Hadharah, 1436 H. 50.

Majah, Muhammad bin Yazid bin Ibnu, Sunan Ibnu Majah, Riyadh: Darus Salam, 2000.

Qayyim, Ibnul, Miftah as-Sa’adah, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, t.t.

Rasyad, Ummu Tamim Izzah binti, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat, Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010.

Sulaiman, Abu Daud bin Asy’aṡ , Sunan Abi Daud, Riyadh: Darus Salam, 2000.

Tim Redaksi, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

footnote

[1] Muhammad bin Saleh al-Uṡaimin, Syarah Usul ṡalaṡah, (Riyadh: Darus Surayya, 2005), h. 31.
[2] QS. Albaqarah: 147.
[3] Muhammad bin Saleh al-Uṡaimin, Kitab al-Ilmi, (Riyadh: Darus Surayya, 2002), h. 13.
[4] Tim Redaksi, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h. 544.
[5] Ibid.
[6] Abu Daud Sulaiman bin Asy’aṡ , Sunan Abi Daud, (Riyadh: Darus Salam, 2000), h. 523.
[7] QS. Al-Mujadalah: 11.
[8] QS. Taha: 114.
[9] Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari, Sahih Albukhari, (Kairo: Maktabah al-Iman, 2003), h. 30.
[10] Muhammad bin Muhammad al-Gazali, Ihya Ulumid Din, (Beirut: Darul Ma’rifah, tt), jil. 1, h. 7.
[11] Khalid bin Hamid al-Hazimi, Usul at-Tarbiyah al-Islamiyah, (Medinah al-Munawwarah: Daruz Zaman, 1433 H), h. 91.
[12] QS. Al-Mulk: 10.
[13] Al-Bukhari, Sahih, … h. 33.
[14] Muhammad, Kitab …., h. 15-22.
[15] Bakar bin Abdullah, Hilyah Talibul Ilmi, (Riyadh: Muassasah Syekh Muhammad bin Saleh al-Usaimin, 1434 H), h. 15 .
[16] Ummu Tamim Izzah binti Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat, (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2010), h. 43-46.
[17] Ibnul Qayyim, Miftah as-Sa’adah, (Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, t.t.), jil. 1, h. 48-49.
[18] Abu Daud, Sunan,…. h. 459.
[19] Al-Bukhari, Sahih, ….h. 37.
[20] Muhammad Ali Al-Hasyimi, Syakhsiyatul Muslim, (Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 1425H), h. 44.
[21] QS. An-Nahl: 43.
[22] Muhammad bin Yazid bin Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, (Riyadh: Darus Salam, 2000), h. 34.
[23] Al-Bukhari, Sahih…., h. 730.
[24] Sulaiman bin Asy’aṡ Abu Daud, Sunan Abi Daud, (Riyadh: Darul Hadharah, 1436 H), h. 50.
[25] Al-Bukhari, Sahih …. H. 31.
[26] Al-Bukhari, Sahih, … h. 33.
[27] Al-Bukhari, Sahih, …. h. 37.
[28] Muhammad, Ihya, ……jil.1, h. 14-16.
[29] Muhammad, Syarah, h. 19-20.
[30] QS. At -Taubah: 122.
[31] Al-Bukhari, Sahih, ….h. 31.
[32] Abu Daud, Sunan …., h. 189.
[33] Muhammad bin Isa At-Tirmiżi, Jami’ at-Tirmiżi, (Riyadh: Darus Salam, 2000), h. 551.
[34] Muhammad bin Isa At-Tirmiżi, Sunan at-Tirmiżi, (Riyadh: Darul Hadarah, 1436 H.), h. 477.
[35] Ummu Tamim, Menyingkap ……., h. 51.
[36] Yusuf bin Abdil Bar, Al-Ilmu wa Fadluhu, (Dammam: Dar Ibnu Jauzi, 1433 H), h. 90.
[37] Muhammad, Kitab …., h. 14.
[38] Burhan al-Islam al-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim, (Beirut: Al-Maktab al-Islami, 1981), h. 63.
[39] QS. Albaqarah: 102.
[40] Muhammad bin Yazid bin Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, (Riyadh: Darus Salam, 2000), h. 34.
[41] https://sites.google.com/site/mutonshraayah/home/alzbd/almqdmte-1, diakses pada Sabtu, 12 Mei 2018.

Posting Komentar

0 Komentar