MAKALAH tentang tafsir bilma’tsur

MAKALAH

1. Pengertian tafsir bilma’tsur
2. Ragam bentuk penafsiran bilma’tsur
3. Pandangan ulama tentang nilai tafsir bilmatsur

PENDAHULUAN
Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang menjadi panutan dan pedoman hidup serta sumber hukum bagi umat Islam. Oleh sebab itu sudah menjadi kewajiban bagi umat untuk mempelajarinya dan menghayati kandungannya. Allah berfirman :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الأَلْبَابِ (ص:29)

Namun karena Al-Qur’an memakai bahasa Arab maka manusia berbeda-beda kemampuannya di dalam memahami isi kandungannya. Karena itu maka berkembanglah suatu kajian keislaman berkaitan dengan ilmu Al-Qur’an yang dikenal dengan ilmu Tafsir. Ulama tafsir dari dahulu sampai sekarang telah banyak menghabiskan tenaga dan waktu mereka untuk menggali kandungan Al-Qur’an untuk diajarkan kepada umat sehingga umat Islam semua bisa memahami Al-Qur’an dengan baik sebagaimana yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya.
MAKALAH tentang tafsir bilma’tsur

Ulama tafsir juga membuat kaedah-kaedah dalam menafsirkan Al-Qur’an, sehingga membantu kita untuk memilih pendapat yang benar manakala terjadi sebuah perselisihan dalam memahami isi Al-Qur’an. Berikut ini adalah penjelasan tentang salah satu metode menafsirkan Al-Qur’an yaitu yang dikenal dengan Tafsir bil Ma’tsur. Di makalah ini akan kami jelaskan pengertian tafsir bilma’tsur, ragam bentuk penafsiran bilma’tsur, pandangan ulama tentang nilai tafsir bilmatsur insya Allah.

PEMBAHASAN TAFSIR BILMA’TSUR

A. Pengertian tafsir bilma’tsur

Tafsir menurut bahasa berarti sebuah penjelasan dan penerangan.[1] Allah berfirman:

وَلاَ يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّ جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيْراً 
“Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, melainkan kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang baik”.[2]
Adapun menurut istilah maka tafsir berarti sebuah ilmu yang dengannya bisa memahami kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan penjelasan maknanya serta pengambilan nilai-nilai hukum dan hikmah darinya.[3]

Sementara al-ma’tsur berasal dari akar kata atsara yang berarti mengutip.[4]

Adapun tafsir bil ma’tsur menurut pengertian terminologi ialah tafsir yang mengandung penjelasan tentang Al-Qur’an dari Al-Qur’an sendiri dan dari Nabi serta apa yang dinukilkan dari Shahabat Nabi dan dari Tabiin.[5]

Dinamai dengan bil ma’tsur (dari kata “atsar” yang berarti sunnah, hadits, jejak, peninggalan) karena dalam melakukan penafsiran, seorang mufasir menelusuri jejak atau peninggalan masa lalu dari generasi sebelumnya, hingga kepada Nabi SAW. Tafsir bi Al-Ma’tsur adalah tafsir berdasar pada kutipan-kutipan yang shahih, yaitu menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an; Al-Qur’an dengan sunnah, karena ia berfungsi sebagai penjelas Kitabullah; dengan perkataan sahabat, karena merekalah yang dianggap paling mengetahui Kitabullah; dengan perkataan tokoh-tokoh besar tabi’in, karena mereka pada umumnya menerimanya dari sahabat. [6]

B. Ragam Bentuk Penafsiran Bilma’tsur

Tafsir bilma’tsur dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu:

(1) Tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an
(2) Tafsir Al-Qur’an dengan As-Sunnah
(3) Tafsir Al-Qur’an dengan riwayat sahabat
(4) Tafsir Al-Qur’an dengan riwayat tabi’in.

Berikut ini adalah penjelasan dari keempat bentuk penafsiran dengan metode tafsir bilma’tsur :

Pertama: Tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an.

Sebagaimana diketahui bahwa Al-Qur’an itu, sebagian ayatnya merupakan penjelas terhadap sebagian ayat yang lain hanya Allah saja yang Maha Mengetahui apa yang dikehendaki dengan firman-Nya. Di antara contoh-contohnya sebagai berikut:

. فتلقى آدم من ربه كلمات فتاب عليه إنه هو التواب الرحيم
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Baqarah [2]: 37).

Kata “‘Kalimaatun” (beberapa kalimat) tersebut dijelaskan oleh ayat yang lain di surat yang lain, yaitu:

قالا ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين
“Adam dan Hawa berkata : Rabbana wahai Tuhan kami, kami telah berbuat aniaya terhadap diri kami. Dan kalau Engaku tidak mengampuni kami dan tidak memberikan kasih sayang kepada kami, pasti kami akan menjadi orang­orang merugi”. (Al-A’raf [7]:23)

Demikian juga QS Al-Maidah (5): 1:

يا أيها الذين آمنوا أوفوا بالعقود أحلت لكم بهيمة الأنعام إلا ما يتلى عليكم غير محلي الصيد وأنتم حرم إن الله يحكم ما يريد
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.

Penggalan ayat Illa Maa Yutlaa ‘alaikum dijelaskan oleh Allah dalam firman QS. Al-Maidah (5): 3):

حرمت عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير وما أهل لغير الله به…..
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) dan yang disembelih atas nama selain Allah…

Demkian juga FirmanNya:

اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين
“Tunjukkanlah kami pada jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau karuniai nikmat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat” (QS Al-Fatihah [1]: 6-7).

Kalimat “orang-orang yang Engkau karuniai nikmat” pada ayat di atas, dijelaskan oleh Allah dalam firmanNya:

ومن يطع الله والرسول فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسُن أولئك رفيقا
“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan RasulNya maka mereka adalah bersama orang-orang yang mendapatkan nikmt dart Allah, yaitu para Nabi, orang-orang yang selalu membenarkan apa-apa yang benar, orang-orang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah sebaik-baik teman/sahabat” (QS An-Nisa: 69).

Demikian juga FirmanNya:

إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا منذرين
“sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan” (QS Ad-Dukhan [44]: 3).

Kata “malam yang diberkahi” dijelaskan oleh Allah dalam firmanNya:

إنا أنزلناه في ليلة القدر
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada kemuliaan (Qadar)” (QS Al-Qadr [97]: 1)

Kedua : tafsir ayat Al-Qur’an dengan As-Sunnah.

Dalam hal ini As-Sunnah menjelaskan Al-Qur’an jika dalam Al-Qur’an itu sendiri tidak terdapat penjelasan karena kedudukan/fungsi As-Sunnah sebagai penjelas terhadap Al-Qur’an.[12] Hal tersebut sesuai dengan firmanNya:

…. وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم ولعلهم يتفكرون
Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan, (QS An-Nahl (16): 44).

Di antara contoh As-Sunnah menjelaskan Al-Qur’an adalah:

(a) Firman Allah dalam QS. Al-An’am (6): 82:

الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون
“orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan dan mereka orang-orang yang mendapat petunjuk.
Kata “al-zulm” dalam ayat tersebut, dijelaskan oleh Rasul Allah saw dengan pengertian “al-syirk” (kemusyrikan).

(b) Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah (2): 238:

حافظوا على الصلوات والصلاة الوسطى وقوموا لله قانتين
Peliharalah segala shalat dan shalat wustha” (QS Al-Baqarah [2]:238). ”Shalat wustha” dijelaskan oleh Nabi dengan ”shalat Asar”.

(c) Firman Allah:

صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah:7). Kata “al-Magdlubi `alaihim dan al-Dhaalliin” ditafsirkan oleh Nabi dengan orang-orangYahudi dan Nasrani.

(d) Firman Allah QS. Al-Anfaal [8]:60:

وأعدوا لهم ما استطعتم من قوة ……
”dan siapkan untuk menghadapi mereka kekuatan-kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Kata ”Maastatha’tum” ditafsirkan oleh Nabi SAW dengan ”alramyu yaitu anak panah.

e). Firman Allah dalam QS. Ghafir (40): 60:

وقال ربكم ادعوني أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين
Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”.

Rasulullah menafsirkan kata ”ibadah” dalam ayat tersebut dengan ”al-du’aa”.
Ketiga: Tafsir Al-Qur’an dengan riwayat sahabat.

Apabila tidak ditemukan penafsiran dalam Al-Qur’an maupun as-Sunnah, maka hendaklak kita kembali kepada keterangan sahabat terkemuka yang saheh, karena merekalah yang pernah bersama Nabi, bergaul dengan beliau dan menghayati petunjuk-petunjuknya.[13]

Para sahabat yang terkenal sebagai mufassir ada 10 orang, yaitu empat Khulafa al-Rasyidin ditambah dengan Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Sabit, Abu Musa al-`Asy’ari dan Abdullah bin Zubair. Namun demikian Khulafa al-Rasyidin hanya sedikit yang mewartakan asar (penjelasan sahabat) kecuali Ali bin Abu Thalib. Dan pada saat ketiga khalifah pertama masih hidup, ketika itu masih banyak sahabat yang ahli dalam kitabullah.[14]

Di antara contoh mengenai penafsiran sahabat terhadap Al-Qur’an ialah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu AN Halim dengan Sanad yang saheh dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menerangkan QS. Al-Nisaa’(4) : 2:

وآتوا اليتامى أموالهم ولا تتبدلوا الخبيث بالطيب ولا تأكلوا أموالهم إلى أموالكم إنه كان حوبا كبيرا
Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.”

Kata ” HUB ” ditafsirkan oleh Ibnu Abbas dengan dosa besar.[15] Juga penjelasan Ibnu Abbas mengenai firman Allah QS. Al-Fatihah:7:

صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين
yaitu ketaatanmu, ibadatmu di antara para malaikat, para Nabi, para siddiqiin, syuhada dan orang-orang saleh.[16]

Kempat: Tafsir Al-Qur’an dengan penjelasan tabi’in.

Sebagai bahan rujukan dalam dalam penulisan Al-Qur’an, penjelasan tabi’in tetap diperhitungkan untuk dapat menafsirkan Al-Qur’an. Sekalipun mereka bukan generasi sahabat yang langsung mendapat penafsiran dari Nabi, tetapi mereka memperoleh penjelasan dari para sahabat. Sebagai contoh penafsiran Mujahid bin Jabbar tentang ayat: Shiraat al-Mustaqim yaitu kebenaran. Mujahid sering menemui Ibnu Abbas dalam memperoleh keterangan.[17]

C. NILAI KEANDALAN TAFSIR BIL MA’TSUR

Dalam tafsir bil ma’tsur banyak menghadapi kritik keras karena banyak riwayat hadis saheh bercampur dengan riwayat-riwayat hadis yang tidak saheh. Selain itu, juga karena kegiatan yang tidak asing lagi dart orang-orang Zindiq dari kaum Yahudi dan Persia yang berusaha menghancurkan agama Islam dan mengacaukan ajaran-ajarannya. Lagi pula dengan pengaruh tokoh berbagai macam mazhab dan golongan yang mempunyai kegemaran aneh yaitu menafsirkan Al-Qur’an dan menceritakan asbab al-nuzul menurut sesuka halinya. Karena itu penafsiran berdasarkan riwayat hadis dituntut kecermatan dalam mengungkapkan sesuatu, keketatan dalam menyaring berbagai niwayat hadis dan kehali-halian serta ketelitian dalam mengetengahkan isnadnya.[18]

Penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an merupakan cara yang terbaik.[19] Menurut as-Sabuni penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an termasuk jenis tafsir yang paling luhur dan tidak ragu lagi untuk diterima. Karena Allah swt lebih mengetahui maksudnya dari pada yang lainnya. Kitab Allah adalah yang paling benar, tidak terdapat pertentangan antara yang satu dengan yang lainnya, dari awal sampai akhimya.[20] Dengan demikian nilai dan keandalan tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an adalah yang paling baik dan tinggi. Implikasinya, si mufassir semestinya dalam proses kerja menafsirkan memahami munasabah satu ayat dengan ayat lainnya.

Penafsiran Al-Qur’an dengan As-Sunnah menempati urutan kedua setelah penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Karena itu harus kita terima, dan petunjuk yang paling baik adalah petunjuk yang dibawa oleh Rasululllah. Beliau tidak menafsirkan makna ayat-ayat Al-Qur’an mengikuti fikirannya sendiri, tetapi menurut wahyu Ilahi.[21] Penjelasan Nabi dengan sanad yang pasti, soheh, maka tidak ada keraguan padanya bahwa hal itu benar dan wajib berpegang padanya.[22] Di samping itu, Nabi saw adalah berfungsi menerangkan dan menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an kepada umat manusia. (QS An-Nahl:44).

Selama apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw tentang penjelasan al­Qur’an itu pasti sanad dan matannya soheh, maka hal itu harus menjadi pedoman dalam menafsirkan ayat, dan nilainya tinggi. Dalam hal ini si mufassir harus betul-betul bersikap hali-hali dan cermat menyaring riwayat-­riwayat yang dikatakan datangnya Nabi.

Mengenai penafsiran Al-Qur’an dengan riwayat sahabat adalah salah satu jalan untuk memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an sebab mereka menyaksikan dan selalu bersama Nabi saw. Dalam hal ini al-Hakim mengatakan, jika saheh dinilai marfu’, karena mereka menyaksikan turunnya wahyu, memahami hal­-hal yang melatar belakangi wahyu, jiwa mereka bersih sehingga memungkinkan mereka memahami Al-Qur’an secara benar.[23] Di samping itu karena para sahabat itu pernah berkumpul dengan Nabi saw, mereka mengambil sumbernya yang asli, menyaksikan turunnya wahyu dan turunnya Al-Qur’an, mengetahui asbab al nuzul, watak mereka murni, fitrah yang lurus, berkedudukan tinggi dalam kefasihan dan kejelasan bicara. Mereka lebih memiliki kemampuan dalam memahami kalam Allah. Dan hal lain yang ada pada mereka tentang rahasia-rahasia Al-Qur’an sudah tentu akan melebihi orang lain yang manapun juga.[24] Ibnu Salah mengatakan bahwa apabila penafsiran sahabat itu mengenai asbab al nuzul dan menafsirkannya tidak memakai ra’yu (akal) maka dinilai marfu’[25], artinya bahwa tafsir tersebut mempunyai kedudukan sebagaimana kedudukan hadis Nabi yang silsilahnya sampai kepada Nabi saw. Selanjutnya Ibnu Salah melanjutkan bahwa apabila penafsiran itu tidak mengenai asbab al-nuzul dan memakai ra’yu, maka dinilai mauquf dan tidak wajib diambil karena para sahabat adalah mujtahid yang bisa benar dan mungkin salah.[26]

Dari berbagai pendapat tersebut dapat digambarkan bahwa penafsiran sahabat dapat dinilai benar dan dipegangi apabila hal itu betul-betul bersumber dari sahabat. Ibnu Taimiyah berkomentar hendaklah diketahui bahwa Nabi saw menerangkan kepada para sahabat tentang makna-makna Al-Qur’an sebagaimana dia menerangkan lafaz-lafaznya. Karenanya firman Allah: … Litubayyina Linnaasi Maa Nazala Ilaihim (QS.an-Nahal: 44) adalah mencakup dua hal ini.[27] Penjelasan sahabat terhadap ayat Al-Qur’an nilainya adalah tinggi dan dapat dijadikan pegangan dalam menafsirkan Al-Qur’an, apabila isnad soheh. Dan penjalasan sahabt tersebut tidak hanya terbatas pada masalah asbab al nuzul saja.

Mengenai tafsir Al-Qur’an dengan riwayat tabi’in, para ulama berbeda pendapat mengenai penilaian terhadap riwayat tabi’in dalam menafsirkan al­Qur’an. Namun sebagai bahan rujukan penafsiran mereka tetap diperhitungkan, terutama kalau tidak ditemukan tafsir suatu ayat dalam Al-Qur’an, tidak pula dalam sunah maupun riwayat sahabat. Sebagian ulama memandang bahwa ucapan tabi’in termasuk tafsir bit ma’tsur dan sebagian lagi memandangnya tafsir bir ra’yi dan ijtihad.[28] 

Dikatakan tafsir bit ma’tsur karena penafsiran tabi’in bersumber dari 
(1) ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi penafsir bagi ayat-ayat lain yang bersifat global, 
(2) apa yang didengar dan diriwayatkan oleh para tabi’in bersumber dari para sahabat, dan sahabat mengambilnya dari Nabi saw, 
(3) tafsir Al-Qur’an yang diriwayatkan oleh para tabi’in, adalah diambil dari para sahabat, 
(4) hasil-hasil perenungan dan pemikiran mereka atas Kitabullah sebagaimana yang telah diungkapkan Allah kepada mereka.[29] 

Mengenai tafsir tabi’in terhadap Al-Qur’an, Ibnu Taimiyah memberikan komentar setelah mengutip pendapat Syu’bah bin al-Hajjaj yaitu pendapat­-pendapat tabi’in yang berkaitan dengan masalah-masalah furu’ tidak dapat dijadikan Hujjah, karena hal itu merupakan buah pikiran mufassir mengenai masalah yang diperselisihkan. Kalau para tabi’in itu bermufakat tentang suatu masalah, maka pendapat mereka dapat dijadikan hujjah, sekalipun pendapat mereka hanya bersumber dari pendapat para sahabat saja. Namun jika mereka berselisih pendapat, maka pendapat sebagian mereka tidak dapat diterima sebagai hujjah, baik terhadap kalangan mereka sendiri maupun generasi selanjutnya.[30] 

Bagaimanapun juga kita harus mengakui bahwa dalam penafsiran Al-Qur’an dengan ma’tsur dari sahabat atau tabi’in mempunyai kelemahan-kelemahan. Dalam hal ini as-Sabuni menjelaskan setelah mengutip pendapat az-Zarqani bahwa kelemahan-kelemahan tafsir Al-Qur’an dengan ma’tsur dari sahabat dari tabi’in yaitu karena berbagai segi:

Campur baur antara yang saheh dan tidak saheh, serta banyak mengutip kata-kata yang dinisbatkan kepada sahabt atau tabi’in dengan tidak mempunyai sandaran dan ketentuan, yang akan menimbulkan pencampuran antara yang hak dan yang batil.

Riwayat-riwayat tersebut ada yang dipengaruhi oleh cerita-cerita israiliyat dan khurafat yang bertentangan dengan aqidah Islamiyah. Dan telah ada dalil yang menyatakan kesalahan cerita-cerita tersebut, hal ini dibawa ke dalam kalangan umat Islam dari kelompok Islam yang dahulunya ahli kitab.

Di kalangan sahabat, ada golongan yang ekstrim. Mereka mengambil beberapa pendapat dan membuat-buat kebatilan-kebatilan yang dinisbatkan kepada sebagian sahabat. Misalnya kelompok Syiah yaitu yang fanatik kepada Ali, mereka sering mengatakan Ali dan Ali sendiri tidak ada urusan apa-apa. Contoh lain, golongan pendukung Abbasiyah mereka mengemukakan kata Ibnu Abbas, padahal tidak benar Ibnu Abbas mengatakan demikian. Mereka berbuat itu karena untuk basa-basi dihadapan para penguasa.

Musuh-musuh Islam dari orang-orang Zindiq ada yang menyisipkan sahabat dan tabi’in sebagaimana mereka menyisipkan atas Nabi saw perihal sabdanya. Hal ini dimaksudkan untuk menghancurkan agama dengan jalan manghasut dan membuat-buat hadis. Dalam hal ini perlu kita waspadai.[31]

Menanggapi hal-hal di atas, oleh az-Zarqani mengatakan setelah mengutip dari Imam Ahmad r.a. dan lbnu Taimiyah yaitu bahwa pendapat yang paling adil dalam hal ini ialah bahwa tafsir bit ma’tsur itu ada dua macam; (1) tafsir yang dalil-dalilnya memenuhi persyaratan saheh dan diterima. Tafsir yang demikian tidak layak untuk ditolak oleh siapapun, tidaklah dibenarkan untuk mengabaikan dan melupakannya. Tidak benar kalau dikatakan bahwa tafsir yang demikian itu tidak bisa dipakai untuk memahami Al-Qur’an bahkan kebalikannya, bahwa tafsir tersebut adalah sarana yang kuat untuk mengambil petunjuk dari Al-Qur’an, (2) tafsir yang dalil atau sumbernya tidak saheh karena beberapa faktor di atas atau sebab lain. Tafsir yang demikian harus ditolak dan tidak boleh diterima serta tidak layak untuk dipelajari. Kebanyakan ahli tafsir yang waspada seperti Ibnu Kasir selalu meneliti sampai di mana kebenarannya yang mereka kutip dan kemudian membuangnya yang tidak benar atau dha’if.[32]

Dengan demikian tafsir ma’tsur dari sahabat atau tabi’in nilainya tinggi apabila sumbernya saheh dan tidak diperselisihkan atau tidak bertentangan satu pendapat dengan pendapat yang lainya. Implikasinya, tafsir ma’tsur yang memenuhi kriteria tersebut haruslah ditenma dan tidak perlu ditolak. Namun kalau tafsir ma’tsur dari sahabat atau terutama tabi’in itu kurang saheh maka nilainya rendah dan sebagai konsekwensinya tidak bisa dipakai atau minimal sebagai pembantu dalam membuka makna al-Quran.

Kelebihan dan Kelemahan Tafsir bil-Ma’tsur

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa penafsiran Al-Qur'an dengan Al-Qur'an, serta penafsiran Al-Qur'an dengan Hadits, tidak diagukan lagi kebenarannya, karna merupakan tingkatan tafsir yang tertinggi. Adapun penafsiran Al-Qur'an dengan pendapat sahabat atau tabi'in, mungkin saja terdapat kelemahan dari berbagai segi:

1. Banyak ditemukan riwayat-riwayat yang disisipkan oleh orang-orang yahudi dan persi dengan tujuan merusak islam melalui informasi yang tidak dipertanggungjawabkan kebenarannya.

2. Banyak ditemukan usaha-usaha penyusupan kepentingan yang dilakukan oleh aliran-aliran yang dianggap menyimpang seperti kaum Syi’ah.

3. Tercampur aduknya riwayat-riwayat yang shahih dengan riwayat-riwayat hadits yang sanadnya lemah

4. Banyak ditemukan riwayat Isra’iliyyat yang mengandung dongeng-dongeng yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.[7]

Pandangan ulama tentang nilai tafsir bilmatsur

1. Syekh Manna’ul Qatthan berkata : “Tafsir bilma’tsur adalah tafsir yang seharusnya diterima dan diikuti karena ia adalah jalan untuk mengetahui kebenaran dan ia adalah jalan yang paling baik untuk menjaga Al-Qur’an dari penyelewangan dan penyimpangan.[8]

2. Prof. Dr. Falih bin Muhammad berkata : “Tafsir bilma’tsur adalah metode penafsiran yang paling awal, ia seharusnya lebih diutamakan, ia adalah metode yang lebih terjaga dari penyimpangan dan lebih dekat kepada pengetahuan yang shahih, hal itu dikarenakan metode tersebut banyak bersandarkan kepada Al-Qur’an dan hadis Nabi serta perkataan Shahabat Nabi dan Tabi’in.[9]

3. Syekh Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim Al-Hambali berkata : “Sebaik-baik metode tafsir adalah dengan menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, kalau tidak didapatinya maka dengan Sunnah karena ia adalah penjelas bagi makna Al-Qur’an, kalau tidak didapati maka dengan melihat perkataan Shahabat Nabi karena mereka lebih memahami Al-Qur’an (dari pada selain mereka sesudah Nabi) terutama para pembesar mereka seperti Khulafaur Rasyidin, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas dan jika tidak didapati maka dikembalikan kepada perkataan Tabi’in seperti Mujahid, Said bin Jubair, Ikrimah, Atha’, Al-Hasan dan lain-lain.[10]

4. Dr. Ibrahim bin Sulaiman Al-Huwaimil berkata: “Metode penafsiran Al-Qur’an yang terbaik dan paling shahih serta paling kuat adalah metode Tafsir bilma’tsur”.[11]

5. Ibnu Katsir berkata : “Jika kita tidak mendapatkan tafsir Al-Qur’an dalam Al-Qur’an ataupun Sunnah Nabi, maka kita kembali kepada perkataan Shahabat Nabi karena mereka adalah orang yang lebih tahu tentang itu, hal itu karena para Shahabat memiliki pemahaman yang sempurna tentang Al-Qur’an, memiliki pengetahuan yang shahih dan amal yang shalih terutama para pembesar mereka seperti Khulafaur Rasyidun dan imam-imam mereka serta Abdullah bin Mas’ud”.[12]

6. Tentang Tafsir bilma’tsur dari Tabi’in berkata Muhammad Husain Az-Zahabi : “Perkataan Tabiin tentang tafsir Al-Qur’an tidak mutlak harus diterima kecuali pada hal-hal yang bersifat ijtihadiyah maka ketika itu bisa diterima namun jika Tabiin bersepakat (ijma’) dalam suatu perkara maka kita wajib untuk menerimanya”[13].

footnote
[1] Muhammad Husain Az-Zahabi, At-Tafsir wal Mufassirun, (Kairo: Maktabah Wahbah, 2003), h.12
[2] Q.S. Al-Furqan : 33
[3] Muhammad Husain Az-Zahabi, At-Tafsir .... h. 13
[4] Ahmad Warson Munawir, Kamus al Munawwir, (Yogyakarta, .....1984), h. 7.
[5] Muhammad Husain Az-Zahabi, At-Tafsir .... h.112
[6] Syaikh Manna’ Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008), Cet.III, h.479
[7] Hasbi ash Shiddieqy, Ilmu-ilmu al-Qur’an, (Jakarta: Bulan BIntang, 1972), h. 220
[8] Manna’ul Qatthan, Mabahits Fi Ulumil Qur’an, (Beirut : Mu’assasah Ar-Risalah, 1996), h. 350
[9] Falih bin Muhammad As-Shagir, Ulumul Qur’an was Sunnah, (Riyadh: Dar Isybiliya, 2002), h.71
[10] Abdurrahman bin Muhammad, Hasyiyah Muqaddimah Tafsir, (Riyadh: Dar Tadmuriyah, 1990), h. 112
[11] Ibrahim bin Sulaiman Al-Huwaimil, At-Tafsir, (Riyadh: Dar Isybiliya, 2002), h.23
[12] Muhammad Husain Az-Zahabi, At-Tafsir wal Mufassirun, (Kairo: Maktabah Wahbah, 2003), h.72
[13] Ibid, h.96
Previous Post
First

0 Komentar: